JAKARTA - Pascabencana yang melanda Padang, Sumatera Barat, Kementerian Agama (Kemenag) mengambil langkah konkrit untuk memastikan layanan keagamaan di wilayah terdampak tetap berjalan dengan baik.
Bantuan sebesar Rp1 miliar disalurkan untuk rehabilitasi tiga Kantor Urusan Agama (KUA), penyediaan mebel, serta donasi bagi penghulu, tokoh agama, dan majelis taklim yang terdampak.
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag, Ahmad Zayadi, menegaskan bahwa kehadiran Kemenag dalam proses pemulihan ini bukan hanya sebatas memberikan bantuan material, tetapi juga menjaga agar pelayanan dasar masyarakat, khususnya keagamaan, tidak terhenti.
Hal ini menjadi penting agar masyarakat dapat terus menjalankan aktivitas keagamaan dan menerima dukungan spiritual dalam menghadapi masa sulit pascabencana.
Peran Tokoh Agama dan Majelis Taklim dalam Mendukung Pemulihan Masyarakat
Selain bantuan fisik, Kemenag menaruh perhatian besar pada peran tokoh agama dan majelis taklim dalam mendampingi masyarakat yang terdampak bencana.
Tokoh agama dan penghulu memiliki fungsi strategis dalam memberikan pendampingan mental serta layanan trauma healing yang sangat dibutuhkan untuk memulihkan kondisi psikologis korban bencana.
Bantuan yang disalurkan kepada mereka bukan sekadar sebagai bentuk apresiasi, namun merupakan upaya pemerintah dalam memperkuat peran tokoh agama sebagai ujung tombak dalam stabilitas sosial dan spiritual masyarakat. Ahmad Zayadi menyatakan, "Kehadiran kami selain memberikan bantuan, juga ingin memastikan pelayanan dasar masyarakat, khususnya keagamaan tidak terhenti," menegaskan pentingnya peran mereka dalam masa pemulihan.
KUA Sebagai Pusat Layanan Multifungsi Masyarakat
Kantor Urusan Agama (KUA) saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pencatatan administrasi keagamaan, seperti pernikahan, tetapi telah berkembang menjadi pusat layanan multifungsi bagi masyarakat.
KUA melayani berbagai kebutuhan, mulai dari konsultasi syariah, pengelolaan zakat dan wakaf, penanganan waris, hingga mediasi konflik sosial yang berkaitan dengan dimensi keagamaan.
Oleh karena itu, keberadaan dan kelancaran operasional KUA menjadi sangat krusial terutama dalam kondisi pascabencana. Rehabilitasi dan penyediaan fasilitas yang memadai untuk KUA merupakan prioritas utama agar berbagai layanan penting tersebut dapat tetap berjalan dengan lancar.
Dengan begitu, masyarakat yang terdampak bencana tetap mendapatkan pelayanan yang diperlukan tanpa hambatan berarti.
Keberhasilan Pelayanan Publik Kemenag dan Evaluasi Kinerja
Pada tahun 2025, pelayanan publik Kementerian Agama berhasil meraih peringkat kategori A dalam evaluasi yang dilakukan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB).
Keberhasilan ini dipengaruhi oleh kinerja optimal berbagai unit layanan termasuk KUA, yang mampu memberikan layanan cepat, tepat, dan berkualitas kepada masyarakat.
Ahmad Zayadi menyampaikan bahwa pencapaian indeks pelayanan publik sebesar 4,61 menjadi modal penting untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan, bahkan dalam kondisi sulit seperti pascabencana.
Ia menambahkan, keberhasilan ini merupakan bukti nyata bahwa Kemenag mampu beradaptasi dan berinovasi demi memenuhi kebutuhan masyarakat secara efektif.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat untuk Pemulihan Berkelanjutan
Pemulihan pascabencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama dan majelis taklim.
Kemenag menyadari bahwa keberhasilan pemulihan sosial dan spiritual sangat bergantung pada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, bantuan yang diberikan tidak hanya bertujuan mendukung rehabilitasi fisik, tetapi juga memperkuat kapasitas tokoh agama untuk menjalankan fungsi sosial dan keagamaan mereka.
Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan dan menciptakan ketahanan sosial yang lebih baik di masa depan, sekaligus meminimalisasi dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat secara menyeluruh.
Kementerian Agama dengan segala upayanya dalam menyalurkan bantuan, menjaga kelangsungan layanan keagamaan, serta memperkuat peran tokoh agama, telah menunjukkan komitmen tinggi dalam mendukung pemulihan pascabencana di Sumatera Barat.
Langkah ini tidak hanya membantu memperbaiki kondisi fisik dan sosial masyarakat terdampak, tetapi juga menegaskan pentingnya aspek spiritual sebagai bagian integral dari proses pemulihan bencana.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan mampu bangkit kembali dengan semangat dan keyakinan yang kuat.