Janji Umroh hingga Narasi Kontroversial, Jurkam Imam-Ririn Tuai Polemik

Sabtu, 23 November 2024 | 12:53:11 WIB

DEPOK – Pernyataan kontroversial dilontarkan oleh salah satu juru kampanye pasangan calon Imam-Ririn dalam sebuah acara dukungan politik di Depok.

Sang juru kampanye secara terbuka menyatakan siap melakukan segala cara demi kemenangan paslon nomor urut 01, termasuk janji memberangkatkan umroh jika pasangan tersebut menang.

"Kalau kita besok Pemilu, kita siap, karena kita sudah punya dana yang cukup untuk perang kapan pun," katanya dalam video yang viral di sosial media.

Lebih lanjut, ia mengaku tidak akan rela jika calon yang diusungnya mendapat perlakuan buruk. Ia bahkan menyatakan siap bertindak tanpa batas demi memastikan kemenangan paslon tersebut.

"Kalau sudah berdiri tegak di sini, InsyaAllah saya gak akan rela Pak Imam diapa-apain. Saya akan turun dengan segala macam cara, dengan perbuatan apa pun. Habis itu saya tobat nasuha," lanjutnya.

Juru Kampanye yang belum diketahui identitasnya itu juga menekankan keyakinannya pada ampunan Tuhan meskipun tindakannya dianggap kontroversial.

"Allah Maha Pengampun, bener gak? Habis saya begini-begini, habis itu saya tobat. Daripada kalau terjadi sesuatu di luar nalar, mendingan saya lakukan dulu, besok kita tobat, bener gak?" tambahnya.

Selain itu, ia menyampaikan janji memberangkatkan umroh bagi pendukung jika pasangan Imam-Ririn berhasil memenangkan Pemilu.

"Yang penting besok pemilu kita siap. Besoknya ambil paspor saya berangkatin umroh, langsung saya berangkatkan," ujarnya di akhir video itu.

Pernyataan Juru Kampanye Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok nomor urut 01, Imam-Ririn menuai berbagai reaksi, termasuk dari tokoh agama, salah satunya Kyai Syamsudin, seorang ulama terkemuka di Depok.

"Islam mengajarkan kita untuk menjaga akhlak dalam segala situasi, termasuk dalam berpolitik. Memanfaatkan agama untuk menjanjikan sesuatu demi keuntungan politik sangat tidak bijak," kata Kyai Syamsudin, Jumat (22/11/24).

Ia juga menyoroti pernyataan terkait 'tobat setelah melakukan dosa' yang disampaikan oleh juru kampanye tersebut.

"Tobat itu adalah bagian dari kesadaran yang tulus, bukan pembenaran untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Tidak bisa kita sengaja berbuat dosa dengan alasan nanti bisa tobat, karena itu justru menyalahi hakikat tobat itu sendiri," tegasnya.

Kyai Syamsudin mengingatkan dengan mengutip salah satu nasihat matan hikam karya Syekh Ibnu Athoillah: 'Menunda amal shalih untuk mencari waktu lapang itu tanda dungu.'

"Apalagi diniati dosa dulu baru tobat, maka itu lebih dungu. Itu yang disebut jahil murokkab," terangnya.

Ia mengimbau para pendukung dan tim kampanye untuk tetap mengedepankan etika serta tidak menggunakan narasi yang dapat merusak kesucian agama demi kepentingan politik.

Terkini